PEMBAHASAN
TEKNOLOGI
Kata teknologi selalu memiliki konotasi yang beragam, berkisar dari sekedar perangkat keras untuk pemecahan masalah. Sebagai pemecah masalah dalam defenisi yang dikutip oleh John Kenneth Galbaraith: ”Penerapan sistematika pengetahuan ilmiah diatur untuk tugas-tugas praktis”.
Penggunaan teknologi sebagai proses disoroti dalam defenisi teknologi pembelajaran yang diberikan oleh perkumpulan profesional dalam bidang ini: ”teori dan praktek mendesain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan proses evaluasi, dan sumber pembelajaran” (Seels & Richey, 1994).
Kata teknologi selalu memiliki konotasi yang beragam, berkisar dari sekedar perangkat keras untuk pemecahan masalah. Sebagai pemecah masalah dalam defenisi yang dikutip oleh John Kenneth Galbaraith: ”Penerapan sistematika pengetahuan ilmiah diatur untuk tugas-tugas praktis”.
Penggunaan teknologi sebagai proses disoroti dalam defenisi teknologi pembelajaran yang diberikan oleh perkumpulan profesional dalam bidang ini: ”teori dan praktek mendesain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan proses evaluasi, dan sumber pembelajaran” (Seels & Richey, 1994).
Saat ini, ketika
sebagian besar orang mendengar kata teknologi, mereka akan berpikir mengenai
produk teknologi seperti; komputer, CD Player, dan pesawat ruang angkasa. Ini
merupakn satu jenis teknologi yang akan menjadi acuan bagi seorang teknologi pembelajaran untuk digunakan untuk tujuan pembelajaran.
Bila teknologi mengacu
pada proses untuk meningkatkan pembelajaran, maka teknologi akan berkaitan
dengan sistem
pembelajaran. Suatu sistem pembelajaran terdiri dari
komponen yang terkait dan bekerjasama, secara efisien dan dapat diandalkan,
dalam kerangka tertentu untuk memberikan aktivitas belajar yang diperlukan demi
mencapai tujuan belajar.
Salah satu peran media
dan teknologi yang paling penting adalah untuk memberikan katalis bagi
perubahan dalam lingkungan pembelajaran. Penggunaan media yang efektif
mengharuskan instruktur memiliki pengaturan yang lebih baik, memikirkan
tujuannya, menggati rutinitas kelas setiap hari, dan mengevaluasi secara luas
untuk menentukan dampak pembelajaran pada kemampuan mental, perasaan, nilai,
ketrampilan interpersonal, dan ketrampilan motorik.
MEDIA
Secara plural media adalah saluran komunikasi. Makna media dalam bahasa latin adalah ”antara”, istilah ini mengacu pada apapun yang membawa informasi antara sumber dan penerima. Contohnya meliputi video, televisi, diagram, material cetak, komputer, dan instruktur. Ini semua dianggap media pembelajaran ketika membawa pesan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi.Sejalan dengan adanya sekolah dan kampus berbasis media dan jaringan koputer internet, dunia menjadi kelas tersendiri bagi pebelajar. Dengan demikian penyeragaman kurikulum sekolah-sekolah dianggap wajar.
Secara plural media adalah saluran komunikasi. Makna media dalam bahasa latin adalah ”antara”, istilah ini mengacu pada apapun yang membawa informasi antara sumber dan penerima. Contohnya meliputi video, televisi, diagram, material cetak, komputer, dan instruktur. Ini semua dianggap media pembelajaran ketika membawa pesan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi.Sejalan dengan adanya sekolah dan kampus berbasis media dan jaringan koputer internet, dunia menjadi kelas tersendiri bagi pebelajar. Dengan demikian penyeragaman kurikulum sekolah-sekolah dianggap wajar.
Enam kategori dari
media adalah teks, audio (suara), visual (gambar), video, manipulasi obyek, dan
orang. Tujuan dari media adalah memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran. Yang
pertama adalah teks, yaitu huruf abjad yang mungkin ditampilkan dalam banyak
format, seperti, buku, poster, papan tulis, layar computer, dll. Selanjutnya
adalah audio, yang termasuk ialah yang anda dengar, missal suara seseorang,
music, suara mekanik (menjalankan mesin mobil), kebisingan, dll. Visual adalah
yang termasuk yaitu diagram dalam poster, gambar di papan, foto, grafik di
buku, kartun, dll. Video adalah media yang ditunjukkan dengan suatu gerakan,
seperti DVD, videotape, animasi komputer, dll. Kemudian manipulasi obyek adalah
tiga dimensi dan dapat disenting dan dikontrol oleh siswa. Yang terakhir adalah
orang, bisa guru, siswa, atau subyek lain. Orang adalah pengkritik
pembelajaran. Siswa belajar dari guru, siswa lain, dan orang dewasa.
FORMAT MEDIA
Format media adalah
bentuk fisik dalam pesan yang dipersatukan dan ditampilkan. Format media
termasuk, sebagai contoh, papan tulis (gambar dan teks), powerpoint slide (teks
dan visual), CD (suara dan musik), DVD (video), dan computer multimedia (audio,
teks, dan video). Masing-masing mempunyai perbedaan kelebihan dan kelemahan
dalam menyebut tipe dari pesan yang dapat ditunjukkan dan ditampilkan. Memilih
format media dapat menjadi tugas kompleks. Faktor yang dipertimbangkan termasuk
barisan yang besar dari media dan teknologi yang ada, variasi dari pebelajar,
dan banyak obyek yang mengikuti. Ketika memilih format media, situasi
pengajaran atau lingkungan (misal kelompok besar, kelompok kecil, atau
pengajaran mandiri), variabel pembelajar (pembaca, non pembaca, atau lebih suka
pendengar), dan natural (kognitif, afektif, psikomotor, atau interpersonal)
harus dipertimbangkan untuk menyesuaikan format media yang digunakan (hanya
gambar, gambar bergerak, kata-kata cetak, atau kata-kata bicara).
THE CONRETE-ABSTRACT CONTINUUM
THE CONRETE-ABSTRACT CONTINUUM
Media pembelajaran
yang menggabungkan pengalaman kongkrit membantu siswa untuk menggabungkan
pengalaman sebelumnya sehingga mempermudahnya untuk mempelajari konsep-konsep
abstrak, misalnya, siwa yang telah melihat berbagai aspek pembangunan jalan
layang atau jalan raya. Mereka melihat pekerja bekarja, dan mereka melihat
tahap-tahap pembangunan jalan. Akan tetapi, mereka perlu memiliki
pengalaman-pengalaman ini yang akan digabungkan ke dalam dugaan yang
disamaratakan tentang apa yang dimaksud dengan pembangunan jalan. Menunjukan
video yang menggambarkan seluruh proses yang terkait satu dengan lain ini
merupakan cara ideal untuk menggabungkan berbagai pengalaman mereka kedalam
suatu ringkasan yang bermakna.
Di dalam mengembangkan
teori pembelajaran, Bruner mengusulkan bahwa pembelajaran harus langsung
berasal dari pengalaman ke benda-benda yang disajikan berdasarkan pengalaman
(penggunaan gambar-gambar dan video tape) ke simbol penyajian (seperti
penggunaan kata-kata).
LEARNING
Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun. Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.
Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun. Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.
Tipe pembelajar
Domain
kognitif. Dalam domain kognitif, pembelajaran
melibatkan kemampuan intelektual yang mungkin diklasifikasikan sebagai
verbal/informasi visual atau sebagai kemampuan intelektual. Pembelajaran
verbal/visual biasanya melibatkan penghafalan atau mengingat kembali
perbuatan-perbuatan atau informasi. Sebagai contoh termasuk menamakan
tulang-tulang di tangan manusia, membubuhkan bagian-bagian pidato dalam sebuah
kalimat, dan menemukan contoh-contoh bentuk-bentuk pokok dalam menggambar.
Domain
afektif. Dalam domain afektif melibatkan sikap, perasaan, dan
nilai. Afektif obyektif termasuk mendorong ketertarikan dalam cerita oleh
pertemuan yang agak lama, memberi semangat sikap-sikap sosial sehat terus
ciptaan dari program recycle, dan mengangkat sebuah etka standar untuk
menggunakan internet.
Domain
keterampilan motorik. Dalam keterampilan motorik,
pembelajaran melibatkan atletik, manual, dan keterampilan fisik lainnya. Pada
tingkat mula-mula, akan termasuk menggunakan pensil dan gunting; pada tingkat
dasar menggunakan keyboard komputer, mikroskop sederhana, dan mengukur
alat-alat; dan pada menengah dan sekolah tingkat atas menggunakan ilmu
pengetahuan dan bermain instrument music.
Domain
interpersonal. Pembelajaran dalam domain interpersonal melibatkan
interaksi di antara orang-orang. Keterampilan interpersonal adalah keterampilan
berpusat pada orang yang menghendaki peran fasilitator, siswa sangat sering
menempatkan ke dalam kelompok kerjasama untuk variasi dari aktivits
pembelajaran. Anda akan membutuhkan mengajar siswa anda bagaimana mendengarkan,
membagi, menghormati, membantu, dan memimpin. Ini dan keterampilan lain
dibutuhkan untuk mencapai komunikasi interpersonal secara efektif. Permainan di
ruang kelas dan kegiatan pendidikan fisik juga termasuk keterampilan
interpersonal.
Psychological Perspective on Learning
Psychological Perspective on Learning
Bagaimana guru
menampilkan peran dari media dan teknologi di dalam kelas, ini tergantung akan
seberapa jauh mereka memahami akan bagaimana masyarakat telah belajar
mengunakannya. Dibawah ini ada beberapa perspektif yang berkaitan dengan
psychological perspectives on learning:
·
Behaviorist Perspective
Pada pertengahan
1950an, fokus belajar berawal dari pembentukan stimulus kepada pebelajar untuk
merespons stimulus tersebut. Skinner mendemonstrasikan bahwa behavior dari
suatu organisme dapat dibentuk oleh penguatan, atau pemberian hadiah, dan
keinginan yang direspons oleh lingkungan. Hasilnya berupa munculnya
pembelajaran yang telah diprogramkan, suatu teknik dalam membimbing pebelajar
melalui langkah-langkah suatu pembelajaran kepada suatu taraf prestasi yang
diinginkan.
·
Cognitivist Perpective
Pada sisi lain
penganut paham kognitif telah membuat suatu kontribusi terhadap teori belajar
dan desain pembelajaran dengan menciptakan model-model akan bagaimana pebelajar
menerima, berproses, dan memanipulasi informasi. Penganut Kognitivis melihat
dengan cara yang berbeda akan pola-pola belajar yang telah terbiasa. Contohnya;
menciptakan suatu kemampuan yang di sebut dengan memori jangka pendek dan memori
jangka panjang. Informasi yang baru disimpan oleh memori jangka pendek, dimana
informasi itu dilatih sampai dapat dikatakan siap disimpan dalam memori jangka
panjang. Penganut Kognitifistik memiliki persepsi yang luas terhadap belajar
yang independent. Dengan demikian, maka siswa menggabungkan informasi dan
ketrampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif,
atau ketrampilan yang berkaitan dengan tugas-tugas kompleks.
·
Constructivist Perspective
Konstruktvisme
merupakan gerakan yang berkembang jauh melebihi keyakinan para kognitivis.
Konstruktivisme mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam memaknai pengalaman
sebagai inti dari pembelajaran. Konstruktivistik menekankan bahwa siswa
menciptakan interpretasi mereka sendiri terhadap dunia informasi.
Konstruktivisme mengatakan bahwa siswa meletakan pengalaman belajar mereka
dengan pengalamannya sendiri dan tujuan pembelajaran bukanlah mengajarkan
informasi tetapi menciptakan situasi-situasi sehingga siswa dapat
menginterpretasi informasi dengan pemahamnnya sendiri. Peran pembelajaran tidak
untuk mengeluarkan fakta-fakta tetapi untuk menyediakan siswa dengan cara-cara
untuk mengumpulkan informasi.
Konstruktivisme
percaya bahwa belajar yang efektif terjadi ketika pebelajar (siswa) terlibat
dalam tugas-tugas autentik yang berhubungan dengan konteks-konteks yang
bermakna. Kemudian ukuran terakhir dari pembelajaran berbasis pada kemampuan
pebelajar (siswa) dalam menggunakan pengetahuan untuk memfasilitasi cara
berpikir akan kehidupan sesungguhnya.
·
Social-Psychological Perspectiv
Psikologi sosial
merupakan tradisi lain yang sudah dibentuk dalam studi belajar dan
pembelajaran. Psikologi sosial melihat dampak dari organisasi sosial akan
pembelajaran di dalam kelas. Apakah susunan kelompok belajar di dalam
kelas-belajar mandiri, kelompok kecil, atau satu kelas secara menyeluruh?
Apakah susunan kekuasaan-seberapa jauh siswa dapat mengkontrol aktivitasnya
sendiri? Dan apakah struktur penghargaan-adalah kerja sama dibandingkan
membantu peningkatan kompetisi? Robert Slavin sudah mengambil posisi sebagai
peneliti mengatakan bahwa cooperative learning lebih efektif dan lebih
menguntungkan sosial dari pada pembelajaran kompetitif dan pembelajaran
individualistik.
THE ROLES OF MEDIA IN LEARNING
Media memiliki
berbagai peran dalam pembelajaran. Pembelajaran mungkin saja bergantung pada
keberadaan seorang guru. Bahkan dalam situasi ini guru mungkin saja bergantung
pada penggunaan media. Di sisi lain, pembelajaran mungkin tidak memerlukan
seorang guru. Seperti siswa mengarahkan pembelajaran yang sering disebut
”belajar mandiri” walaupun dalam kenyataan dituntun oleh siapapun yang
mendesain media.
Instrutor-Directed Instruction
Penggunaan media dan teknologi dalam situasi pengajaran adalah untuk
memberikan dukungan tambahan bagi instruktur agar lebih hidup di dalam kelas.
Tentunya media pembelajaran dirancang dengan sesuai agar dapat mempertinggi dan
memajukan pembelajaran dan mendukung pembelajaran berbasis guru.
Penelitian telah lama dilakukan dan menunjukan peran istruktur dalam menggunakan media pembelajaran yang efektif. Misalnya, penelitian menunjukan bahwa ketika guru memperkenalkan film, mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran, maka sejumlah informasi yang diperoleh siswa dari film tersebut meningkat (Wittich & fowlkes, 1946). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, apapun bentuknya, hal tersebut yang diinginkan untuk pola pikir yang dapat menyerap pembelajaran.
Penelitian telah lama dilakukan dan menunjukan peran istruktur dalam menggunakan media pembelajaran yang efektif. Misalnya, penelitian menunjukan bahwa ketika guru memperkenalkan film, mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran, maka sejumlah informasi yang diperoleh siswa dari film tersebut meningkat (Wittich & fowlkes, 1946). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, apapun bentuknya, hal tersebut yang diinginkan untuk pola pikir yang dapat menyerap pembelajaran.
Thematic Instruction
Sekarang banyak guru
yang mengatur pembelajaran seputar topik, ini dikenal sebagai pengajaran
tematik. Guru sekolah dasar khususnya menggabungkan muatan dan ketrampilan dari
banyak subjek. Pada tingkat sekolah menengah, tim guru dari area yang berbeda
bekerja sama untuk menunjukan pembelajaran yang keluar dari isi pelajaran. Unit-unit
ini menyediakan lingkungan pembelajaran yang kaya. Tema yang menarik haruslah
menarik perhatian siswa, menyediakan pemecah masalah yang berpengalaman,
mendukung aktivitas interdisiplin, dan menyertakan variasi media, dan
teknologi.
Mulailah dengan pengalaman yang dialami bersama dengan meminta siswa membaca buku yang sama, melihat sebuah videotape, ikut serta dalam sebuah simulasi, mengunjungi museum, atau mendengar pembicaraan tamu. Kemudian melakukan keahlian bersama yang dapat digunakan siswa untuk bekerja sama mengumpulkan data dan informasi, menganalisa temuannya, menarik kesimpulan, mempersiapkan laporan kelompok, dan membagi hasil mereka dalam suatu media presentasi. Kemungkinan aktivitas terkait dengan penelitian pustaka, pencarian internet, dan aktivitas kelompok kecil.
Mulailah dengan pengalaman yang dialami bersama dengan meminta siswa membaca buku yang sama, melihat sebuah videotape, ikut serta dalam sebuah simulasi, mengunjungi museum, atau mendengar pembicaraan tamu. Kemudian melakukan keahlian bersama yang dapat digunakan siswa untuk bekerja sama mengumpulkan data dan informasi, menganalisa temuannya, menarik kesimpulan, mempersiapkan laporan kelompok, dan membagi hasil mereka dalam suatu media presentasi. Kemungkinan aktivitas terkait dengan penelitian pustaka, pencarian internet, dan aktivitas kelompok kecil.
Instructor-Independent Instruction
Media juga dapat
digunakan secara efektif dalam situasi pendidikan formal dimana guru tidak
berfungsi atau bekerja dengan siswa-siswa lain. Dalam aturan pendidikan
informal, media seperti video kaset dan komputer untuk kursus dapat digunakan
oleh orang yang magang pada tempat kerja atau di rumah.
Portofolio
Portofolio merupakan
kumpulan pekerjaan siswa yang menggambarkan perkembangannya selama satu
periode. Portofolio seringkali manyangkut ilustrasi buku yang dihasilkan siswa,
video, dan audiovisual. Portofolio siswa dilakukan seperti mengumpulkan,
mengorganisir, dan berbagi informasi, Meneliti hubungan-hubungan. Menguji
hipotesis, Mengkomunikasikan hasil-hasil secara efektif, Merekam berbagai macam
tampilan, Mencerminkan aktivitas dan belajar pebelajar, Menekankan pada hasil,
sasaran dan prioritas pebelajar, Mendemonstrasikan kreativitas dan personaliti
pebelajar. Portofolio dapat berisikan ilustrasi buku seperti; Penulisan dokumen
seperti, puisi-puisi, kisah-kisah, atau makalah penelitian, Media presentasi,
seperti esai-esai foto, Audio rekaman dari debat-debat, diskusi panel, atau
presentasi lisan, Rekaman video dari siswa pencinta atletik, musik, atau yang
memiliki keahlian dalam menari, Proyek multimedia komputer yang disertai
percetakan, data, grafik, dan gambar-gambar yang bergerak.
PERAN TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Teknologi dan media
dapat melayani banyak peran dalam pembelajaran. Ketika pengajaran adalah
berpusat pada guru (teacher-cntered), teknologi dan media digunakan untuk mendukung
presentasi pengajaran. Sebagai contoh, guru mungkin menggunakan papan
elektronik untuk menampilkan materinya. Selain itu, ketika pengajaran adalah
berpusat pada siswa (student-centered), siswa adalah pengguna pokok teknologi dan media.
Penggunaan kegiatan berpusat pada siswa memungkinkan guru menghabiskan lebih
dari waktu mereka mendiagnosis dan mengkoreksi masalah-masalah siswa,
mengkonsultasi dengan individu siswa, dan mengajar sata-satu dan dalam kelompok
kecil. Penggunaan teknologi dan media oleh siswa ada dua yang penting, yaitu
portfolio dan pendidikan jarak jauh.
SETTING PEMBELAJARAN
Pembelajaran dapat
bertempat pada banyak setting berbeda. Setting pembelajaran adalah sekitar atau
yang mengelilingi dalam pembelajaran. Selain di ruang kelas, pembelajaran juga
terjadi di laboratorium (laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium
bahasa), perpustakaan, pusat media, taman bermain, gedung teater, tanah lapang,
ruang belajar, dan di rumah. Ada dua settingpembelajaran
yaitu synchronous dan asynchronous. Untuk pengajaransynchronous,
pembelajar harus menyajikan pada waktu yang sama. Sebagai contoh, dalam
presentasi di dalam ruang kelas, program televisi langsung (bukan videotape),
atau teleconference. Dalam pengajaran synchronous ada dua tipe. Yang pertama
ialah pengajaran langsung, face
to face. Dan yang kedua sering disebut
pembelajaran jarak jauh. Kegiatan pengajarannya dalam waktu yang sama tapi
pembelajar dapat berada di tempat yang berbeda, contohnya adalah dengan
chatting. Pengajaran yang kedua adalah asynchronous. Pembelajaran ini tidak harus dilaksanakan tidak pada
waktu yang sama.
STRATEGI
Strategi berarti suatu
jalan atau cara untuk melakukan sesuatu. Strategi dideskripsikan sebagai sebuah
prosedur pengajaran yang dipilih untuk membantu proses kegiatan belajar.
Strategi pembelajaran adalah suatu cara yang melibatkan pembelajar dalam sebuah
aktivitas belajar mengajar. Contohnya adalah termasuk presentasi, demonstrasi, cooperative learning, permainan, simulasi, pemecahan masalah, diskusi, drill-and-practice,
discovery, dan tutorial. Teknologi dan media akan
melengkapi dan mendukung banyak strategi pembelajaran. Setelah memilih
strategi, selanjutnya memilih teknologi dan media untuk mengimplementasikan
strategi tersebut.
KESIMPULAN
Dalam makalah ini
membicarakan seputar hal media, Teknologi, dan
pembelajaran. Belajar merupakan sebuah aktifitas transformasi ilmu pengetahuan,
sikap dan nilai dari satu generasi ke generasi lainnya. Membutuhkan satu
saluran dan media yang harus tepat. Sehingga perlu pertimbangan yang mendalam
dan tepat dalam menentukan teknologi yang akan digunakan sebagai sarana
pembelajaran. Disamping itu, penggunaan media pembelajaran juga harus
dipertimbangkan dalam penggunaanya dari berbagai sisi. Diantara berbagai faktor
yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan media pembelajaran antara lain
adalah faktor efektifitas penggunaan media, kemudahan dalam penggunaannya,
ketersediaan sumber energi penggerak media tersebut bila menggunakan listrik
sebagai motor penggeraknya serta pertimbangan lain yang perlu disesuaikan
dengan kondisi lingkungan dan kultural masyarakat setempat.
wew pembelajaran
BalasHapusjoog jos friend
BalasHapusgood job
BalasHapusgooood.....
BalasHapusthanks,,,,kawanku baik-baik bgt yaaaaaaaaaaaa
BalasHapus