Kamis, 16 Mei 2013

manfaat madu

Manfaat Khasiat Madu Lebah Asli Untuk Kecantikan Wajah Atau Kulit Dan Kesehatan


Khasiat Madu

Madu mungkin sudah menjadi sahabat bagi Anda dan keluarga. Selain manis, madu juga sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan. Ada banyak manfaat tertuang dalam satu sendok makan madu yang Anda minum setiap hari.

Fakta Tentang Khasiat Madu:

1. Madu Adalah Penopang Kehidupan

Madu diperkaya kandungan-kandungan bernutrisi dan bisa menyelamatkan Anda dalam masa-masa kritis seperti menjelang sakit, sakit hingga saat Anda sehat. Kandungan di dalam madu adalah anti oksidan, vitamin, mineral, bahkan air. Percaya atau tidak, madu bisa menjadi salah satu penolong saat Anda membutuhkan nutrisi dan kelembaban.

2. Madu Itu Mengobati

Kedahsyatan madu lainnya adalah mampu mengobati secara alami. Madu di masa kini mampu memerangi alergi, bakteri, dan mengobati Anda lewat penyakit dalam dan luar. Kenapa bisa begitu ya? Tiap tetes madu mengandung antibiotik yang mampu menangani infeksi dalam tubuh kita. Madu dan lemon adalah kombinasi tepat untuk menjadi tameng kesehatan, sekaligus mengobati tenggorokan yang sedang sakit.

3. Madu Baik Untuk Kulit Berjerawat

Yay! Lambaikan tangan Anda pada jerawat sejak Anda bisa mengatasinya dengan madu. Cukup gunakan madu organic yang diusapkan di tangan dan tunggu hingga hangatnya tangan Anda meresap ke madu. Kemudian gunakan di wajah. Tunggu selama lima menit dan bersihkan dengan handuk hangat basah yang lembut. Rasakan sensasinya di kulit Anda.

4. Madu Bisa Jadi Teman Selamanya

Madu bisa menjadi sahabat Anda kapanpun dan di mana pun. Madu mampu menjaga dirinya sendiri tetap aman untuk dikonsumsi karena sifatnya awet dan tahan lama. Jadi, jangan buang madu yang Anda simpan selama 6 bulan karena masih bisa dikonsumsi, Ladies.

5. Madu Itu Melembutkan

Wanita perlu menjadi dan merasa cantik. Apabila Anda merasa tangan, kaki atau rambut Anda kasar dan kusam, coba lakukan perawatan dengan masker madu. Gunakan madu murni yang berkhasiat untuk melembutkan kembali seluruh tubuh Anda. Jangan heran deh kalau madu jadi salah satu resep kecantikan jaman dulu karena khasiatnya yang satu ini.

Selain madu menyehatkan juga menjaga kecantikan alami Anda. Pastikan Anda menggunakan madu alami bebas gula tambahan agar selalu cantik dan sehat.

===========================================

Manfaat Madu Lainnya:

1. Masker Madu

Oleskan madu murni pada wajah Anda dan biarkan selama kira-kira 15 menit, hingga mengering. Setelah kering, basuhlah wajah Anda dengan air hangat.

2. Tubuh berkilau dengan madu

Untuk melembabkan, menghaluskan dan membuat kulit berkilau, oleskan madu pada kulit tubuh Anda. Jika rajin melakukan perawatan ini dua atau tiga kali seminggu, niscaya akan membuat kulit bersinar.

3. Mandi madu

Mandi madu berfungsi untuk membuat kulit lebih lembut. Anda bisa menambahkan satu setengah cangkir madu dalam bathtub saat berendam.

4. Scrub madu

Untuk menghaluskan kulit, campur satu sendok teh madu dengan sedikit tepung almond yang bisa dibeli di supermarket. Lalu gosokkan pada kulit dan bilas dengan air hangat. Scrub ini tidak hanya untuk tubuh, namun bermanfaat pula untuk kulit wajah.

5. Pembersih wajah

Campurkan sesendok teh madu dengan satu sendok makan susu bubuk, lalu oleskan pada wajah. Perawatan ini berguna untuk membersihkan sisa make-up pada wajah. Bilas dengan air hangat sesudahnya.

6. Rambut Berkilau

Untuk membuat rambut Anda berkilau, campurkan 1 sendok makan madu, perasan satu jeruk nipis, dan sedikit air hangat. Bilas rambut Anda dengan shampo seperti biasa dan lalu tuangkan campuran tadi pada rambut. Keringkan rambut dengan cara biasa.

7. Conditioner Rambut

Untuk menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala, campurkan ½ cangkir madu dan satu sendok malan minyak zaitun. Oleskan merata ke rambut dan kulit kepala, lalu ambil penutup rambut dan biarkan selama 30 menit dalam keadaan tertutup. Setelah 30 menit, keramasi dengan shampo dan bilas rambut Anda seperti biasa.

8. Toner Kulit

Untuk mengencangkan, melembutkan dan melembabkan kulit, campurkan 1 buah kulit jeruk ditambah satu sendok makan madu dalam blender hingga halus. Gosokan perlahan campuran madu tadi ke wajah dan biarkan selama 15 menit. Lalu basuh wajah Anda dengan air hangat untuk membersihkan campuran tadi.

9. Jus Lemon dengan Madu

Campuran lemon dan madu akan meredakan sakit tenggorokan Anda dengan baik. Minuman ini juga mampu mendinginkan tenggorokan dan meredakan rasa sakit saat menelan.

10. Teh Jahe atau Teh Madu

Selain merupakan sajian yang lezat, teh jahe atau teh madu bisa menjadi cara yang luas biasa untuk menangani tenggorokan gatal. Madu berfungsi melapisi tenggorokan dan dapat mencegah iritasi.

humanistik


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, sikap dan tingkah laku ketrampilan, kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaanya. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui situasi yang ada pada siswa.
Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori belajar di kelompokan dalam empat kelompok atau aliran meliputi: (1) Teori Belajar Behavioristik (2) Teori Belajar Kognitif (3) Teori Belajar Humanistik (4) Teori Belajar Sibernik.
Untuk memahami lebih lanjut maka dalam makalah ini akan membahas mengenai Teori Belajar Humanistik.
B. Rumusan masalah
  1. Apa Pengertian Teori Belajar Humanistik?
  2. Siapa sajakah tokoh Teori Belajar Humanistik?
  3. Apa Saja Prinsip Dalam Teori Belajar Humanistik?
  4. Bagaimana Aplikasi Teori Belajar Humanistik?
  5. Apa Implikasi Teori Belajar Humanistik?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Belajar Humanistik.
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.[1]
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.[2]
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.[3]
Menurut hemat kami, Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
B. Tokoh Teori Humanistik
1. Carl Rogers
Carl R. Rogers kurang menaruh perhatian kepada mekanisme proses belajar. Belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan pribadi. Mereka berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak dapat berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh karena itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motifasi belajar harus bersumber pada diri peserta didik.[4]
Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu: (1) belajar yang bermakna dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta didik.
Bagaimana proses belajar dapat terjadi  menurut teori belajar humanisme?. Orang belajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya berhasil.
Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar siswa menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam : (1) membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar siswa bersikap positif terhadap belajar, (2) membantu siswa untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar, (3) membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong belajar, (4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada siswa, dan (5) menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai siswa sebagaimana adanya.[5]
2.      Arthur Combs
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.[6]
Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu.. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.[7]
C. Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik
Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik:[8]
  1. Manusia mempunyai belajar alami
  2. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu
  3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
  4. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil
  5. Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara.
  6. Belajar yang bermakna  diperolaeh jika siswa melakukannya
  7. Belajar lancer jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
  8. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
  9. Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
  10. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar
Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1). Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru, (2). Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa, (3)  belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar, (4) belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri, (5) belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan  pribadi, pikiran maupun perasaan akan lebih baik  dan tahan lama, dan (6) kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu penting.
D. Aplikasi Teori Belajar Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. [9]
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
  1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
  2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
  3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
  4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
  5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
  6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
  7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
  8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
E. Implikasi Teori Belajar Humanistik
    1. Guru Sebagai Fasilitator
            Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.  Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):[10]
a) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
b) Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
c) Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
d) Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
e) Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
f) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
g)      Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
h) Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
i) Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
j) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
  1. Merespon perasaan siswa
  2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
  3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
  4. Menghargai siswa
  5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
  6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
  7. Tersenyum pada siswa
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Demikian yang dapat kami berikan kepada sahabat-sahabat mahasiswa, dapat kami berikan sedikit kesimpulan awal, bahwa:
  1. Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya
  2. Tokoh dalam teori ini adalah C. Roger dan Arthur Comb.
  3. Aplikasi dalam teori ini, Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya sebagai fasilitator.
  4. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
    1. Merespon perasaan siswa
    2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
    3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
    4. Menghargai siswa
    5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
    6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
    7. Tersenyum pada siswa


media pembelajaran


PEMBAHASAN
TEKNOLOGI
Kata teknologi selalu memiliki konotasi yang beragam, berkisar dari sekedar perangkat keras untuk pemecahan masalah. Sebagai pemecah masalah dalam defenisi yang dikutip oleh John Kenneth Galbaraith: ”Penerapan sistematika pengetahuan ilmiah diatur untuk tugas-tugas praktis”.
Penggunaan teknologi sebagai proses disoroti dalam defenisi teknologi pembelajaran yang diberikan oleh perkumpulan profesional dalam bidang ini: ”teori dan praktek mendesain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan proses evaluasi, dan sumber pembelajaran” (Seels & Richey, 1994).
Saat ini, ketika sebagian besar orang mendengar kata teknologi, mereka akan berpikir mengenai produk teknologi seperti; komputer, CD Player, dan pesawat ruang angkasa. Ini merupakn satu jenis teknologi yang akan menjadi acuan bagi seorang teknologi pembelajaran untuk digunakan untuk tujuan pembelajaran.
Bila teknologi mengacu pada proses untuk meningkatkan pembelajaran, maka teknologi akan berkaitan dengan sistem pembelajaran. Suatu sistem pembelajaran terdiri dari komponen yang terkait dan bekerjasama, secara efisien dan dapat diandalkan, dalam kerangka tertentu untuk memberikan aktivitas belajar yang diperlukan demi mencapai tujuan belajar.
Salah satu peran media dan teknologi yang paling penting adalah untuk memberikan katalis bagi perubahan dalam lingkungan pembelajaran. Penggunaan media yang efektif mengharuskan instruktur memiliki pengaturan yang lebih baik, memikirkan tujuannya, menggati rutinitas kelas setiap hari, dan mengevaluasi secara luas untuk menentukan dampak pembelajaran pada kemampuan mental, perasaan, nilai, ketrampilan interpersonal, dan ketrampilan motorik.
MEDIA
Secara plural media adalah saluran komunikasi. Makna media dalam bahasa latin adalah ”antara”, istilah ini mengacu pada apapun yang membawa informasi antara sumber dan penerima. Contohnya meliputi video, televisi, diagram, material cetak, komputer, dan instruktur. Ini semua dianggap media pembelajaran ketika membawa pesan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi.Sejalan dengan adanya sekolah dan kampus berbasis media dan jaringan koputer internet, dunia menjadi kelas tersendiri bagi pebelajar. Dengan demikian penyeragaman kurikulum sekolah-sekolah dianggap wajar.
Enam kategori dari media adalah teks, audio (suara), visual (gambar), video, manipulasi obyek, dan orang. Tujuan dari media adalah memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran. Yang pertama adalah teks, yaitu huruf abjad yang mungkin ditampilkan dalam banyak format, seperti, buku, poster, papan tulis, layar computer, dll. Selanjutnya adalah audio, yang termasuk ialah yang anda dengar, missal suara seseorang, music, suara mekanik (menjalankan mesin mobil), kebisingan, dll. Visual adalah yang termasuk yaitu diagram dalam poster, gambar di papan, foto, grafik di buku, kartun, dll. Video adalah media yang ditunjukkan dengan suatu gerakan, seperti DVD, videotape, animasi komputer, dll. Kemudian manipulasi obyek adalah tiga dimensi dan dapat disenting dan dikontrol oleh siswa. Yang terakhir adalah orang, bisa guru, siswa, atau subyek lain. Orang adalah pengkritik pembelajaran. Siswa belajar dari guru, siswa lain, dan orang dewasa.




FORMAT MEDIA
Format media adalah bentuk fisik dalam pesan yang dipersatukan dan ditampilkan. Format media termasuk, sebagai contoh, papan tulis (gambar dan teks), powerpoint slide (teks dan visual), CD (suara dan musik), DVD (video), dan computer multimedia (audio, teks, dan video). Masing-masing mempunyai perbedaan kelebihan dan kelemahan dalam menyebut tipe dari pesan yang dapat ditunjukkan dan ditampilkan. Memilih format media dapat menjadi tugas kompleks. Faktor yang dipertimbangkan termasuk barisan yang besar dari media dan teknologi yang ada, variasi dari pebelajar, dan banyak obyek yang mengikuti. Ketika memilih format media, situasi pengajaran atau lingkungan (misal kelompok besar, kelompok kecil, atau pengajaran mandiri), variabel pembelajar (pembaca, non pembaca, atau lebih suka pendengar), dan  natural (kognitif, afektif, psikomotor, atau interpersonal) harus dipertimbangkan untuk menyesuaikan format media yang digunakan (hanya gambar, gambar bergerak, kata-kata cetak, atau kata-kata bicara).
THE CONRETE-ABSTRACT CONTINUUM
Media pembelajaran yang menggabungkan pengalaman kongkrit membantu siswa untuk menggabungkan pengalaman sebelumnya sehingga mempermudahnya untuk mempelajari konsep-konsep abstrak, misalnya, siwa yang telah melihat berbagai aspek pembangunan jalan layang atau jalan raya. Mereka melihat  pekerja bekarja, dan mereka melihat tahap-tahap pembangunan jalan. Akan tetapi, mereka perlu memiliki pengalaman-pengalaman ini yang akan digabungkan ke dalam dugaan yang disamaratakan tentang apa yang dimaksud dengan pembangunan jalan. Menunjukan video yang menggambarkan seluruh proses yang terkait satu dengan lain ini merupakan cara ideal untuk menggabungkan berbagai pengalaman mereka kedalam suatu ringkasan yang bermakna.
Di dalam mengembangkan teori pembelajaran, Bruner mengusulkan bahwa pembelajaran harus langsung berasal dari pengalaman ke benda-benda yang disajikan berdasarkan pengalaman (penggunaan gambar-gambar dan video tape) ke simbol penyajian (seperti penggunaan kata-kata).

LEARNING
Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun. Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.
Tipe pembelajar
Domain kognitif. Dalam domain kognitif, pembelajaran melibatkan kemampuan intelektual  yang mungkin diklasifikasikan sebagai verbal/informasi visual atau sebagai kemampuan intelektual. Pembelajaran verbal/visual biasanya melibatkan penghafalan atau mengingat kembali perbuatan-perbuatan atau informasi. Sebagai contoh termasuk menamakan tulang-tulang di tangan manusia, membubuhkan bagian-bagian pidato dalam sebuah kalimat, dan menemukan contoh-contoh bentuk-bentuk pokok dalam menggambar.
Domain afektif. Dalam domain afektif melibatkan sikap, perasaan, dan nilai. Afektif obyektif termasuk mendorong ketertarikan dalam cerita oleh pertemuan yang agak lama, memberi semangat sikap-sikap sosial sehat terus ciptaan dari program recycle, dan mengangkat sebuah etka standar untuk menggunakan internet.
Domain keterampilan motorik. Dalam keterampilan motorik, pembelajaran melibatkan atletik, manual, dan keterampilan fisik lainnya. Pada tingkat mula-mula, akan termasuk menggunakan pensil dan gunting; pada tingkat dasar menggunakan keyboard komputer, mikroskop sederhana, dan mengukur alat-alat; dan pada menengah dan sekolah tingkat atas menggunakan ilmu pengetahuan dan bermain instrument music.
Domain interpersonal. Pembelajaran dalam domain interpersonal melibatkan interaksi di antara orang-orang. Keterampilan interpersonal adalah keterampilan berpusat pada orang yang menghendaki peran fasilitator, siswa sangat sering menempatkan ke dalam kelompok kerjasama untuk variasi dari aktivits pembelajaran. Anda akan membutuhkan mengajar siswa anda bagaimana mendengarkan, membagi, menghormati, membantu, dan memimpin. Ini dan keterampilan lain dibutuhkan untuk mencapai komunikasi interpersonal secara efektif. Permainan di ruang kelas dan kegiatan pendidikan fisik juga termasuk keterampilan interpersonal.
Psychological Perspective on Learning
Bagaimana guru menampilkan peran dari media dan teknologi di dalam kelas, ini tergantung akan seberapa jauh mereka memahami akan bagaimana masyarakat telah belajar mengunakannya. Dibawah ini ada beberapa perspektif yang berkaitan dengan psychological perspectives on learning:
·         Behaviorist Perspective
Pada pertengahan 1950an, fokus belajar berawal dari pembentukan stimulus kepada pebelajar untuk merespons stimulus tersebut. Skinner mendemonstrasikan bahwa behavior dari suatu organisme dapat dibentuk oleh penguatan, atau pemberian hadiah, dan keinginan yang direspons oleh lingkungan. Hasilnya berupa munculnya pembelajaran yang telah diprogramkan, suatu teknik dalam membimbing pebelajar melalui langkah-langkah suatu pembelajaran kepada suatu taraf prestasi yang diinginkan.
·         Cognitivist Perpective
Pada sisi lain penganut paham kognitif telah membuat suatu kontribusi terhadap teori belajar dan desain pembelajaran dengan menciptakan model-model akan bagaimana pebelajar menerima, berproses, dan memanipulasi informasi. Penganut Kognitivis melihat dengan cara yang berbeda akan pola-pola belajar yang telah terbiasa. Contohnya; menciptakan suatu kemampuan yang di sebut dengan memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi yang baru disimpan oleh memori jangka pendek, dimana informasi itu dilatih sampai dapat dikatakan siap disimpan dalam memori jangka panjang. Penganut Kognitifistik memiliki persepsi yang luas terhadap belajar yang independent. Dengan demikian, maka siswa menggabungkan informasi dan ketrampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif, atau ketrampilan yang berkaitan dengan tugas-tugas kompleks.
·         Constructivist Perspective
Konstruktvisme merupakan gerakan yang berkembang jauh melebihi keyakinan para kognitivis. Konstruktivisme mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam memaknai pengalaman sebagai inti dari pembelajaran. Konstruktivistik menekankan bahwa siswa menciptakan interpretasi mereka sendiri terhadap dunia informasi. Konstruktivisme mengatakan bahwa siswa meletakan pengalaman belajar mereka dengan pengalamannya sendiri dan tujuan pembelajaran bukanlah mengajarkan informasi tetapi menciptakan situasi-situasi sehingga siswa dapat menginterpretasi informasi dengan pemahamnnya sendiri. Peran pembelajaran tidak untuk mengeluarkan fakta-fakta tetapi untuk menyediakan siswa dengan cara-cara untuk mengumpulkan informasi.
Konstruktivisme percaya bahwa belajar yang efektif terjadi ketika pebelajar (siswa) terlibat dalam tugas-tugas autentik yang berhubungan dengan konteks-konteks yang bermakna. Kemudian ukuran terakhir dari pembelajaran berbasis pada kemampuan pebelajar (siswa) dalam menggunakan pengetahuan untuk memfasilitasi cara berpikir akan kehidupan sesungguhnya.
·         Social-Psychological Perspectiv
Psikologi sosial merupakan tradisi lain yang sudah dibentuk dalam studi belajar dan pembelajaran. Psikologi sosial melihat dampak dari organisasi sosial akan pembelajaran di dalam kelas. Apakah susunan kelompok belajar di dalam kelas-belajar mandiri, kelompok kecil,  atau satu kelas secara menyeluruh? Apakah susunan kekuasaan-seberapa jauh siswa dapat mengkontrol aktivitasnya sendiri? Dan apakah struktur penghargaan-adalah kerja sama dibandingkan membantu peningkatan kompetisi? Robert Slavin sudah mengambil posisi sebagai peneliti mengatakan bahwa cooperative learning lebih efektif dan lebih menguntungkan sosial dari pada pembelajaran kompetitif dan pembelajaran individualistik.
THE ROLES OF MEDIA IN LEARNING
Media memiliki berbagai peran dalam pembelajaran. Pembelajaran mungkin saja bergantung pada keberadaan seorang guru. Bahkan dalam situasi ini guru mungkin saja bergantung pada penggunaan media. Di sisi lain, pembelajaran mungkin tidak memerlukan seorang guru. Seperti siswa mengarahkan pembelajaran yang sering disebut ”belajar mandiri” walaupun dalam kenyataan dituntun oleh siapapun yang mendesain media.
Instrutor-Directed Instruction
Penggunaan media dan teknologi dalam situasi pengajaran adalah untuk memberikan dukungan tambahan bagi instruktur agar lebih hidup di dalam kelas. Tentunya media pembelajaran dirancang dengan sesuai agar dapat mempertinggi dan memajukan pembelajaran dan mendukung pembelajaran berbasis guru.
Penelitian telah lama dilakukan dan menunjukan peran istruktur dalam menggunakan media pembelajaran yang efektif. Misalnya, penelitian menunjukan bahwa ketika guru memperkenalkan film, mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran, maka sejumlah informasi yang diperoleh siswa dari film tersebut meningkat (Wittich & fowlkes, 1946). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, apapun bentuknya, hal tersebut yang diinginkan untuk pola pikir yang dapat menyerap pembelajaran.
Thematic Instruction
Sekarang banyak guru yang mengatur pembelajaran seputar topik, ini dikenal sebagai pengajaran tematik. Guru sekolah dasar khususnya menggabungkan muatan dan ketrampilan dari banyak subjek. Pada tingkat sekolah menengah, tim guru dari area yang berbeda bekerja sama untuk menunjukan pembelajaran yang keluar dari isi pelajaran. Unit-unit ini menyediakan lingkungan pembelajaran yang kaya. Tema yang menarik haruslah menarik perhatian siswa, menyediakan pemecah masalah yang berpengalaman, mendukung aktivitas interdisiplin, dan menyertakan variasi media, dan teknologi.
Mulailah dengan pengalaman yang dialami bersama dengan meminta siswa membaca buku yang sama, melihat sebuah videotape, ikut serta dalam sebuah simulasi, mengunjungi museum, atau mendengar pembicaraan tamu. Kemudian melakukan keahlian bersama yang dapat digunakan siswa untuk bekerja sama mengumpulkan data dan informasi, menganalisa temuannya, menarik kesimpulan, mempersiapkan laporan kelompok, dan membagi hasil mereka dalam suatu media presentasi. Kemungkinan aktivitas terkait dengan penelitian pustaka, pencarian internet, dan aktivitas kelompok kecil.
Instructor-Independent Instruction
Media juga dapat digunakan secara efektif dalam situasi pendidikan formal dimana guru tidak berfungsi atau bekerja dengan siswa-siswa lain. Dalam aturan pendidikan informal, media seperti video kaset dan komputer untuk kursus dapat digunakan oleh orang yang magang pada tempat kerja atau di rumah.
Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan pekerjaan siswa yang menggambarkan perkembangannya selama satu periode. Portofolio seringkali manyangkut ilustrasi buku yang dihasilkan siswa, video, dan audiovisual. Portofolio siswa dilakukan seperti  mengumpulkan, mengorganisir, dan berbagi informasi, Meneliti hubungan-hubungan. Menguji hipotesis, Mengkomunikasikan hasil-hasil secara efektif, Merekam berbagai macam tampilan, Mencerminkan aktivitas dan belajar pebelajar, Menekankan pada hasil, sasaran dan prioritas pebelajar, Mendemonstrasikan kreativitas dan personaliti pebelajar. Portofolio dapat berisikan ilustrasi buku seperti; Penulisan dokumen seperti, puisi-puisi, kisah-kisah, atau makalah penelitian, Media presentasi, seperti esai-esai foto, Audio rekaman dari debat-debat, diskusi panel, atau presentasi lisan, Rekaman video dari siswa pencinta atletik, musik, atau yang memiliki keahlian dalam menari, Proyek multimedia komputer yang disertai percetakan, data, grafik, dan gambar-gambar yang bergerak.
PERAN TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Teknologi dan media dapat melayani banyak peran dalam pembelajaran. Ketika pengajaran adalah berpusat pada guru (teacher-cntered), teknologi dan media digunakan untuk mendukung presentasi pengajaran. Sebagai contoh, guru mungkin menggunakan papan elektronik untuk menampilkan materinya. Selain itu, ketika pengajaran adalah berpusat pada siswa (student-centered), siswa adalah pengguna pokok teknologi dan media. Penggunaan kegiatan berpusat pada siswa memungkinkan guru menghabiskan lebih dari waktu mereka mendiagnosis dan mengkoreksi masalah-masalah siswa, mengkonsultasi dengan individu siswa, dan mengajar sata-satu dan dalam kelompok kecil. Penggunaan teknologi dan media oleh siswa ada dua yang penting, yaitu portfolio dan pendidikan jarak jauh.

SETTING PEMBELAJARAN
Pembelajaran dapat bertempat pada banyak setting berbeda. Setting pembelajaran adalah sekitar atau yang mengelilingi dalam pembelajaran. Selain di ruang kelas, pembelajaran juga terjadi di laboratorium (laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium bahasa), perpustakaan, pusat media, taman bermain, gedung teater, tanah lapang, ruang belajar, dan di rumah. Ada dua settingpembelajaran yaitu synchronous dan asynchronous. Untuk pengajaransynchronous, pembelajar harus menyajikan pada waktu yang sama. Sebagai contoh, dalam presentasi di dalam ruang kelas, program televisi langsung (bukan videotape), atau teleconference. Dalam pengajaran synchronous ada dua tipe. Yang pertama ialah pengajaran langsung, face to face. Dan yang kedua sering disebut pembelajaran jarak jauh. Kegiatan pengajarannya dalam waktu yang sama tapi pembelajar dapat berada di tempat yang berbeda, contohnya adalah dengan chatting. Pengajaran yang kedua adalah asynchronous. Pembelajaran ini tidak harus dilaksanakan tidak pada waktu yang sama.

STRATEGI
Strategi berarti suatu jalan atau cara untuk melakukan sesuatu. Strategi dideskripsikan sebagai sebuah prosedur pengajaran yang dipilih untuk membantu proses kegiatan belajar. Strategi pembelajaran adalah suatu cara yang melibatkan pembelajar dalam sebuah aktivitas belajar mengajar. Contohnya adalah termasuk presentasi, demonstrasi, cooperative learning, permainan, simulasi, pemecahan masalah, diskusi, drill-and-practice, discovery, dan tutorial. Teknologi dan media akan melengkapi dan mendukung banyak strategi pembelajaran. Setelah memilih strategi, selanjutnya memilih teknologi dan media untuk mengimplementasikan strategi tersebut.
KESIMPULAN

Dalam makalah ini membicarakan seputar hal media, Teknologidan pembelajaran. Belajar merupakan sebuah aktifitas transformasi ilmu pengetahuan, sikap dan nilai dari satu generasi ke generasi lainnya. Membutuhkan satu saluran dan media yang harus tepat. Sehingga perlu pertimbangan yang mendalam dan tepat dalam menentukan teknologi yang akan digunakan sebagai sarana pembelajaran. Disamping itu, penggunaan media pembelajaran juga harus dipertimbangkan dalam penggunaanya dari berbagai sisi. Diantara berbagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan media pembelajaran antara lain adalah faktor efektifitas penggunaan media, kemudahan dalam penggunaannya, ketersediaan sumber energi penggerak media tersebut bila menggunakan listrik sebagai motor penggeraknya serta pertimbangan lain yang perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kultural masyarakat setempat.