Manfaat Khasiat Madu Lebah Asli Untuk Kecantikan Wajah Atau Kulit Dan Kesehatan
Madu mungkin sudah menjadi sahabat bagi Anda dan keluarga. Selain manis, madu juga sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan. Ada banyak manfaat tertuang dalam satu sendok makan madu yang Anda minum setiap hari.
Fakta Tentang Khasiat Madu:
1. Madu Adalah Penopang Kehidupan
Madu diperkaya kandungan-kandungan bernutrisi dan bisa menyelamatkan Anda dalam masa-masa kritis seperti menjelang sakit, sakit hingga saat Anda sehat. Kandungan di dalam madu adalah anti oksidan, vitamin, mineral, bahkan air. Percaya atau tidak, madu bisa menjadi salah satu penolong saat Anda membutuhkan nutrisi dan kelembaban.
2. Madu Itu Mengobati
Kedahsyatan madu lainnya adalah mampu mengobati secara alami. Madu di masa kini mampu memerangi alergi, bakteri, dan mengobati Anda lewat penyakit dalam dan luar. Kenapa bisa begitu ya? Tiap tetes madu mengandung antibiotik yang mampu menangani infeksi dalam tubuh kita. Madu dan lemon adalah kombinasi tepat untuk menjadi tameng kesehatan, sekaligus mengobati tenggorokan yang sedang sakit.
3. Madu Baik Untuk Kulit Berjerawat
Yay! Lambaikan tangan Anda pada jerawat sejak Anda bisa mengatasinya dengan madu. Cukup gunakan madu organic yang diusapkan di tangan dan tunggu hingga hangatnya tangan Anda meresap ke madu. Kemudian gunakan di wajah. Tunggu selama lima menit dan bersihkan dengan handuk hangat basah yang lembut. Rasakan sensasinya di kulit Anda.
4. Madu Bisa Jadi Teman Selamanya
Madu bisa menjadi sahabat Anda kapanpun dan di mana pun. Madu mampu menjaga dirinya sendiri tetap aman untuk dikonsumsi karena sifatnya awet dan tahan lama. Jadi, jangan buang madu yang Anda simpan selama 6 bulan karena masih bisa dikonsumsi, Ladies.
5. Madu Itu Melembutkan
Wanita perlu menjadi dan merasa cantik. Apabila Anda merasa tangan, kaki atau rambut Anda kasar dan kusam, coba lakukan perawatan dengan masker madu. Gunakan madu murni yang berkhasiat untuk melembutkan kembali seluruh tubuh Anda. Jangan heran deh kalau madu jadi salah satu resep kecantikan jaman dulu karena khasiatnya yang satu ini.
Selain madu menyehatkan juga menjaga kecantikan alami Anda. Pastikan Anda menggunakan madu alami bebas gula tambahan agar selalu cantik dan sehat.
===========================================
Manfaat Madu Lainnya:
1. Masker Madu
Oleskan madu murni pada wajah Anda dan biarkan selama kira-kira 15 menit, hingga mengering. Setelah kering, basuhlah wajah Anda dengan air hangat.
2. Tubuh berkilau dengan madu
Untuk melembabkan, menghaluskan dan membuat kulit berkilau, oleskan madu pada kulit tubuh Anda. Jika rajin melakukan perawatan ini dua atau tiga kali seminggu, niscaya akan membuat kulit bersinar.
3. Mandi madu
Mandi madu berfungsi untuk membuat kulit lebih lembut. Anda bisa menambahkan satu setengah cangkir madu dalam bathtub saat berendam.
4. Scrub madu
Untuk menghaluskan kulit, campur satu sendok teh madu dengan sedikit tepung almond yang bisa dibeli di supermarket. Lalu gosokkan pada kulit dan bilas dengan air hangat. Scrub ini tidak hanya untuk tubuh, namun bermanfaat pula untuk kulit wajah.
5. Pembersih wajah
Campurkan sesendok teh madu dengan satu sendok makan susu bubuk, lalu oleskan pada wajah. Perawatan ini berguna untuk membersihkan sisa make-up pada wajah. Bilas dengan air hangat sesudahnya.
6. Rambut Berkilau
Untuk membuat rambut Anda berkilau, campurkan 1 sendok makan madu, perasan satu jeruk nipis, dan sedikit air hangat. Bilas rambut Anda dengan shampo seperti biasa dan lalu tuangkan campuran tadi pada rambut. Keringkan rambut dengan cara biasa.
7. Conditioner Rambut
Untuk menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala, campurkan ½ cangkir madu dan satu sendok malan minyak zaitun. Oleskan merata ke rambut dan kulit kepala, lalu ambil penutup rambut dan biarkan selama 30 menit dalam keadaan tertutup. Setelah 30 menit, keramasi dengan shampo dan bilas rambut Anda seperti biasa.
8. Toner Kulit
Untuk mengencangkan, melembutkan dan melembabkan kulit, campurkan 1 buah kulit jeruk ditambah satu sendok makan madu dalam blender hingga halus. Gosokan perlahan campuran madu tadi ke wajah dan biarkan selama 15 menit. Lalu basuh wajah Anda dengan air hangat untuk membersihkan campuran tadi.
9. Jus Lemon dengan Madu
Campuran lemon dan madu akan meredakan sakit tenggorokan Anda dengan baik. Minuman ini juga mampu mendinginkan tenggorokan dan meredakan rasa sakit saat menelan.
10. Teh Jahe atau Teh Madu
Selain merupakan sajian yang lezat, teh jahe atau teh madu bisa menjadi cara yang luas biasa untuk menangani tenggorokan gatal. Madu berfungsi melapisi tenggorokan dan dapat mencegah iritasi.
Kamis, 16 Mei 2013
humanistik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula
mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, sikap dan
tingkah laku ketrampilan, kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya
penerimaanya. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses
mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa. Belajar merupakan suatu
proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui situasi yang
ada pada siswa.
Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh
adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori belajar di kelompokan dalam
empat kelompok atau aliran meliputi: (1) Teori Belajar Behavioristik (2) Teori
Belajar Kognitif (3) Teori Belajar Humanistik (4) Teori Belajar Sibernik.
Untuk memahami lebih lanjut maka dalam makalah ini
akan membahas mengenai Teori Belajar Humanistik.
B. Rumusan
masalah
- Apa
Pengertian Teori Belajar Humanistik?
- Siapa
sajakah tokoh Teori Belajar Humanistik?
- Apa
Saja Prinsip Dalam Teori Belajar Humanistik?
- Bagaimana
Aplikasi Teori Belajar Humanistik?
- Apa
Implikasi Teori Belajar Humanistik?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Teori Belajar Humanistik.
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus
berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat
menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih
banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang
paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar
dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti
apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat
dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai
aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.[1]
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap
berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa
dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai
aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami
perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya.[2]
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.[3]
Menurut hemat kami, Teori Belajar Humanistik adalah
suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan
manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
B. Tokoh Teori Humanistik
1. Carl
Rogers
Carl R. Rogers kurang menaruh perhatian kepada
mekanisme proses belajar. Belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan pribadi.
Mereka berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak dapat berlangsung bila
tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh karena
itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motifasi belajar harus bersumber
pada diri peserta didik.[4]
Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu: (1) belajar
yang bermakna dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna
terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan
peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses
pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek
perasaan peserta didik.
Bagaimana proses belajar dapat terjadi menurut
teori belajar humanisme?. Orang belajar karena ingin mengetahui dunianya.
Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan
caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya
berhasil.
Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar
siswa menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang
berperan aktif dalam : (1) membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar
siswa bersikap positif terhadap belajar, (2) membantu siswa untuk memperjelas
tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar, (3)
membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai
kekuatan pendorong belajar, (4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada
siswa, dan (5) menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai
siswa sebagaimana adanya.[5]
2.
Arthur Combs
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu.
Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh
tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan
penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain
hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan
memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa
dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin
merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa
yang ada.[6]
Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa
siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana
mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga
yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi
pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan
kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia
seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada
satu.. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan
besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari
persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal
yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.[7]
C.
Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik
Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik:[8]
- Manusia
mempunyai belajar alami
- Belajar
signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai
relevansi dengan maksud tertentu
- Belajar
yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
- Tugas
belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu
kecil
- Bila
bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara.
- Belajar
yang bermakna diperolaeh jika siswa melakukannya
- Belajar
lancer jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
- Belajar
yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
- Kepercayaan
pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
- Belajar
sosial adalah belajar mengenai proses belajar
Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme
mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1). Manusia itu
memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah
terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan
asimilasi pengalaman baru, (2). Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila
bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa, (3) belajar dapat
di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar, (4) belajar secara
partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang
belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri, (5) belajar
atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun
perasaan akan lebih baik dan tahan lama, dan (6) kebebasan, kreatifitas,
dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri
orang lain tidak begitu penting.
D. Aplikasi
Teori Belajar Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau
spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan.
Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi
para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar
dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan
mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. [9]
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center)
yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami
potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan
potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya
daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
- Merumuskan
tujuan belajar yang jelas
- Mengusahakan
partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas ,
jujur dan positif.
- Mendorong
siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif
sendiri
- Mendorong
siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara
mandiri
- Siswa
di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,
melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang
ditunjukkan.
- Guru
menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak
menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas
segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
- Memberikan
kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
- Evaluasi
diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok
untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani,
tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara
bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan ,
norma , disiplin atau etika yang berlaku.
E. Implikasi
Teori Belajar Humanistik
- Guru
Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai
kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa
(petunjuk):[10]
a) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada
penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
b) Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas
tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang
bersifat umum.
c) Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing
siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai
kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
d) Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber
untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu
mencapai tujuan mereka.
e) Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber
yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
f) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam
kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap
perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi
individual ataupun bagi kelompok
g) Bilamana cuaca
penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan
sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan
turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang
lain.
h) Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam
kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak
memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan
atau ditolak oleh siswa
i) Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan
yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
j) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator,
pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya
sendiri.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
- Merespon
perasaan siswa
- Menggunakan
ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
- Berdialog
dan berdiskusi dengan siswa
- Menghargai
siswa
- Kesesuaian
antara perilaku dan perbuatan
- Menyesuaikan
isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera
dari siswa)
- Tersenyum
pada siswa
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Demikian yang dapat kami berikan kepada
sahabat-sahabat mahasiswa, dapat kami berikan sedikit kesimpulan awal, bahwa:
- Teori
Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang
mengedepankan bagaimana memanusiakan manusisa serta peserta didik mampu
mengembangkan potensi dirinya
- Tokoh
dalam teori ini adalah C. Roger dan Arthur Comb.
- Aplikasi
dalam teori ini, Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani,
tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri
secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar
aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya
sebagai fasilitator.
- Ciri-ciri
guru yang fasilitatif adalah :
- Merespon
perasaan siswa
- Menggunakan
ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
- Berdialog
dan berdiskusi dengan siswa
- Menghargai
siswa
- Kesesuaian
antara perilaku dan perbuatan
- Menyesuaikan
isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan
segera dari siswa)
- Tersenyum
pada siswa
media pembelajaran
PEMBAHASAN
TEKNOLOGI
Kata teknologi selalu memiliki konotasi yang beragam, berkisar dari sekedar perangkat keras untuk pemecahan masalah. Sebagai pemecah masalah dalam defenisi yang dikutip oleh John Kenneth Galbaraith: ”Penerapan sistematika pengetahuan ilmiah diatur untuk tugas-tugas praktis”.
Penggunaan teknologi sebagai proses disoroti dalam defenisi teknologi pembelajaran yang diberikan oleh perkumpulan profesional dalam bidang ini: ”teori dan praktek mendesain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan proses evaluasi, dan sumber pembelajaran” (Seels & Richey, 1994).
Kata teknologi selalu memiliki konotasi yang beragam, berkisar dari sekedar perangkat keras untuk pemecahan masalah. Sebagai pemecah masalah dalam defenisi yang dikutip oleh John Kenneth Galbaraith: ”Penerapan sistematika pengetahuan ilmiah diatur untuk tugas-tugas praktis”.
Penggunaan teknologi sebagai proses disoroti dalam defenisi teknologi pembelajaran yang diberikan oleh perkumpulan profesional dalam bidang ini: ”teori dan praktek mendesain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan proses evaluasi, dan sumber pembelajaran” (Seels & Richey, 1994).
Saat ini, ketika
sebagian besar orang mendengar kata teknologi, mereka akan berpikir mengenai
produk teknologi seperti; komputer, CD Player, dan pesawat ruang angkasa. Ini
merupakn satu jenis teknologi yang akan menjadi acuan bagi seorang teknologi pembelajaran untuk digunakan untuk tujuan pembelajaran.
Bila teknologi mengacu
pada proses untuk meningkatkan pembelajaran, maka teknologi akan berkaitan
dengan sistem
pembelajaran. Suatu sistem pembelajaran terdiri dari
komponen yang terkait dan bekerjasama, secara efisien dan dapat diandalkan,
dalam kerangka tertentu untuk memberikan aktivitas belajar yang diperlukan demi
mencapai tujuan belajar.
Salah satu peran media
dan teknologi yang paling penting adalah untuk memberikan katalis bagi
perubahan dalam lingkungan pembelajaran. Penggunaan media yang efektif
mengharuskan instruktur memiliki pengaturan yang lebih baik, memikirkan
tujuannya, menggati rutinitas kelas setiap hari, dan mengevaluasi secara luas
untuk menentukan dampak pembelajaran pada kemampuan mental, perasaan, nilai,
ketrampilan interpersonal, dan ketrampilan motorik.
MEDIA
Secara plural media adalah saluran komunikasi. Makna media dalam bahasa latin adalah ”antara”, istilah ini mengacu pada apapun yang membawa informasi antara sumber dan penerima. Contohnya meliputi video, televisi, diagram, material cetak, komputer, dan instruktur. Ini semua dianggap media pembelajaran ketika membawa pesan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi.Sejalan dengan adanya sekolah dan kampus berbasis media dan jaringan koputer internet, dunia menjadi kelas tersendiri bagi pebelajar. Dengan demikian penyeragaman kurikulum sekolah-sekolah dianggap wajar.
Secara plural media adalah saluran komunikasi. Makna media dalam bahasa latin adalah ”antara”, istilah ini mengacu pada apapun yang membawa informasi antara sumber dan penerima. Contohnya meliputi video, televisi, diagram, material cetak, komputer, dan instruktur. Ini semua dianggap media pembelajaran ketika membawa pesan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi.Sejalan dengan adanya sekolah dan kampus berbasis media dan jaringan koputer internet, dunia menjadi kelas tersendiri bagi pebelajar. Dengan demikian penyeragaman kurikulum sekolah-sekolah dianggap wajar.
Enam kategori dari
media adalah teks, audio (suara), visual (gambar), video, manipulasi obyek, dan
orang. Tujuan dari media adalah memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran. Yang
pertama adalah teks, yaitu huruf abjad yang mungkin ditampilkan dalam banyak
format, seperti, buku, poster, papan tulis, layar computer, dll. Selanjutnya
adalah audio, yang termasuk ialah yang anda dengar, missal suara seseorang,
music, suara mekanik (menjalankan mesin mobil), kebisingan, dll. Visual adalah
yang termasuk yaitu diagram dalam poster, gambar di papan, foto, grafik di
buku, kartun, dll. Video adalah media yang ditunjukkan dengan suatu gerakan,
seperti DVD, videotape, animasi komputer, dll. Kemudian manipulasi obyek adalah
tiga dimensi dan dapat disenting dan dikontrol oleh siswa. Yang terakhir adalah
orang, bisa guru, siswa, atau subyek lain. Orang adalah pengkritik
pembelajaran. Siswa belajar dari guru, siswa lain, dan orang dewasa.
FORMAT MEDIA
Format media adalah
bentuk fisik dalam pesan yang dipersatukan dan ditampilkan. Format media
termasuk, sebagai contoh, papan tulis (gambar dan teks), powerpoint slide (teks
dan visual), CD (suara dan musik), DVD (video), dan computer multimedia (audio,
teks, dan video). Masing-masing mempunyai perbedaan kelebihan dan kelemahan
dalam menyebut tipe dari pesan yang dapat ditunjukkan dan ditampilkan. Memilih
format media dapat menjadi tugas kompleks. Faktor yang dipertimbangkan termasuk
barisan yang besar dari media dan teknologi yang ada, variasi dari pebelajar,
dan banyak obyek yang mengikuti. Ketika memilih format media, situasi
pengajaran atau lingkungan (misal kelompok besar, kelompok kecil, atau
pengajaran mandiri), variabel pembelajar (pembaca, non pembaca, atau lebih suka
pendengar), dan natural (kognitif, afektif, psikomotor, atau interpersonal)
harus dipertimbangkan untuk menyesuaikan format media yang digunakan (hanya
gambar, gambar bergerak, kata-kata cetak, atau kata-kata bicara).
THE CONRETE-ABSTRACT CONTINUUM
THE CONRETE-ABSTRACT CONTINUUM
Media pembelajaran
yang menggabungkan pengalaman kongkrit membantu siswa untuk menggabungkan
pengalaman sebelumnya sehingga mempermudahnya untuk mempelajari konsep-konsep
abstrak, misalnya, siwa yang telah melihat berbagai aspek pembangunan jalan
layang atau jalan raya. Mereka melihat pekerja bekarja, dan mereka melihat
tahap-tahap pembangunan jalan. Akan tetapi, mereka perlu memiliki
pengalaman-pengalaman ini yang akan digabungkan ke dalam dugaan yang
disamaratakan tentang apa yang dimaksud dengan pembangunan jalan. Menunjukan
video yang menggambarkan seluruh proses yang terkait satu dengan lain ini
merupakan cara ideal untuk menggabungkan berbagai pengalaman mereka kedalam
suatu ringkasan yang bermakna.
Di dalam mengembangkan
teori pembelajaran, Bruner mengusulkan bahwa pembelajaran harus langsung
berasal dari pengalaman ke benda-benda yang disajikan berdasarkan pengalaman
(penggunaan gambar-gambar dan video tape) ke simbol penyajian (seperti
penggunaan kata-kata).
LEARNING
Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun. Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.
Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun. Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.
Tipe pembelajar
Domain
kognitif. Dalam domain kognitif, pembelajaran
melibatkan kemampuan intelektual yang mungkin diklasifikasikan sebagai
verbal/informasi visual atau sebagai kemampuan intelektual. Pembelajaran
verbal/visual biasanya melibatkan penghafalan atau mengingat kembali
perbuatan-perbuatan atau informasi. Sebagai contoh termasuk menamakan
tulang-tulang di tangan manusia, membubuhkan bagian-bagian pidato dalam sebuah
kalimat, dan menemukan contoh-contoh bentuk-bentuk pokok dalam menggambar.
Domain
afektif. Dalam domain afektif melibatkan sikap, perasaan, dan
nilai. Afektif obyektif termasuk mendorong ketertarikan dalam cerita oleh
pertemuan yang agak lama, memberi semangat sikap-sikap sosial sehat terus
ciptaan dari program recycle, dan mengangkat sebuah etka standar untuk
menggunakan internet.
Domain
keterampilan motorik. Dalam keterampilan motorik,
pembelajaran melibatkan atletik, manual, dan keterampilan fisik lainnya. Pada
tingkat mula-mula, akan termasuk menggunakan pensil dan gunting; pada tingkat
dasar menggunakan keyboard komputer, mikroskop sederhana, dan mengukur
alat-alat; dan pada menengah dan sekolah tingkat atas menggunakan ilmu
pengetahuan dan bermain instrument music.
Domain
interpersonal. Pembelajaran dalam domain interpersonal melibatkan
interaksi di antara orang-orang. Keterampilan interpersonal adalah keterampilan
berpusat pada orang yang menghendaki peran fasilitator, siswa sangat sering
menempatkan ke dalam kelompok kerjasama untuk variasi dari aktivits
pembelajaran. Anda akan membutuhkan mengajar siswa anda bagaimana mendengarkan,
membagi, menghormati, membantu, dan memimpin. Ini dan keterampilan lain
dibutuhkan untuk mencapai komunikasi interpersonal secara efektif. Permainan di
ruang kelas dan kegiatan pendidikan fisik juga termasuk keterampilan
interpersonal.
Psychological Perspective on Learning
Psychological Perspective on Learning
Bagaimana guru
menampilkan peran dari media dan teknologi di dalam kelas, ini tergantung akan
seberapa jauh mereka memahami akan bagaimana masyarakat telah belajar
mengunakannya. Dibawah ini ada beberapa perspektif yang berkaitan dengan
psychological perspectives on learning:
·
Behaviorist Perspective
Pada pertengahan
1950an, fokus belajar berawal dari pembentukan stimulus kepada pebelajar untuk
merespons stimulus tersebut. Skinner mendemonstrasikan bahwa behavior dari
suatu organisme dapat dibentuk oleh penguatan, atau pemberian hadiah, dan
keinginan yang direspons oleh lingkungan. Hasilnya berupa munculnya
pembelajaran yang telah diprogramkan, suatu teknik dalam membimbing pebelajar
melalui langkah-langkah suatu pembelajaran kepada suatu taraf prestasi yang
diinginkan.
·
Cognitivist Perpective
Pada sisi lain
penganut paham kognitif telah membuat suatu kontribusi terhadap teori belajar
dan desain pembelajaran dengan menciptakan model-model akan bagaimana pebelajar
menerima, berproses, dan memanipulasi informasi. Penganut Kognitivis melihat
dengan cara yang berbeda akan pola-pola belajar yang telah terbiasa. Contohnya;
menciptakan suatu kemampuan yang di sebut dengan memori jangka pendek dan memori
jangka panjang. Informasi yang baru disimpan oleh memori jangka pendek, dimana
informasi itu dilatih sampai dapat dikatakan siap disimpan dalam memori jangka
panjang. Penganut Kognitifistik memiliki persepsi yang luas terhadap belajar
yang independent. Dengan demikian, maka siswa menggabungkan informasi dan
ketrampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif,
atau ketrampilan yang berkaitan dengan tugas-tugas kompleks.
·
Constructivist Perspective
Konstruktvisme
merupakan gerakan yang berkembang jauh melebihi keyakinan para kognitivis.
Konstruktivisme mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam memaknai pengalaman
sebagai inti dari pembelajaran. Konstruktivistik menekankan bahwa siswa
menciptakan interpretasi mereka sendiri terhadap dunia informasi.
Konstruktivisme mengatakan bahwa siswa meletakan pengalaman belajar mereka
dengan pengalamannya sendiri dan tujuan pembelajaran bukanlah mengajarkan
informasi tetapi menciptakan situasi-situasi sehingga siswa dapat
menginterpretasi informasi dengan pemahamnnya sendiri. Peran pembelajaran tidak
untuk mengeluarkan fakta-fakta tetapi untuk menyediakan siswa dengan cara-cara
untuk mengumpulkan informasi.
Konstruktivisme
percaya bahwa belajar yang efektif terjadi ketika pebelajar (siswa) terlibat
dalam tugas-tugas autentik yang berhubungan dengan konteks-konteks yang
bermakna. Kemudian ukuran terakhir dari pembelajaran berbasis pada kemampuan
pebelajar (siswa) dalam menggunakan pengetahuan untuk memfasilitasi cara
berpikir akan kehidupan sesungguhnya.
·
Social-Psychological Perspectiv
Psikologi sosial
merupakan tradisi lain yang sudah dibentuk dalam studi belajar dan
pembelajaran. Psikologi sosial melihat dampak dari organisasi sosial akan
pembelajaran di dalam kelas. Apakah susunan kelompok belajar di dalam
kelas-belajar mandiri, kelompok kecil, atau satu kelas secara menyeluruh?
Apakah susunan kekuasaan-seberapa jauh siswa dapat mengkontrol aktivitasnya
sendiri? Dan apakah struktur penghargaan-adalah kerja sama dibandingkan
membantu peningkatan kompetisi? Robert Slavin sudah mengambil posisi sebagai
peneliti mengatakan bahwa cooperative learning lebih efektif dan lebih
menguntungkan sosial dari pada pembelajaran kompetitif dan pembelajaran
individualistik.
THE ROLES OF MEDIA IN LEARNING
Media memiliki
berbagai peran dalam pembelajaran. Pembelajaran mungkin saja bergantung pada
keberadaan seorang guru. Bahkan dalam situasi ini guru mungkin saja bergantung
pada penggunaan media. Di sisi lain, pembelajaran mungkin tidak memerlukan
seorang guru. Seperti siswa mengarahkan pembelajaran yang sering disebut
”belajar mandiri” walaupun dalam kenyataan dituntun oleh siapapun yang
mendesain media.
Instrutor-Directed Instruction
Penggunaan media dan teknologi dalam situasi pengajaran adalah untuk
memberikan dukungan tambahan bagi instruktur agar lebih hidup di dalam kelas.
Tentunya media pembelajaran dirancang dengan sesuai agar dapat mempertinggi dan
memajukan pembelajaran dan mendukung pembelajaran berbasis guru.
Penelitian telah lama dilakukan dan menunjukan peran istruktur dalam menggunakan media pembelajaran yang efektif. Misalnya, penelitian menunjukan bahwa ketika guru memperkenalkan film, mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran, maka sejumlah informasi yang diperoleh siswa dari film tersebut meningkat (Wittich & fowlkes, 1946). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, apapun bentuknya, hal tersebut yang diinginkan untuk pola pikir yang dapat menyerap pembelajaran.
Penelitian telah lama dilakukan dan menunjukan peran istruktur dalam menggunakan media pembelajaran yang efektif. Misalnya, penelitian menunjukan bahwa ketika guru memperkenalkan film, mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran, maka sejumlah informasi yang diperoleh siswa dari film tersebut meningkat (Wittich & fowlkes, 1946). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, apapun bentuknya, hal tersebut yang diinginkan untuk pola pikir yang dapat menyerap pembelajaran.
Thematic Instruction
Sekarang banyak guru
yang mengatur pembelajaran seputar topik, ini dikenal sebagai pengajaran
tematik. Guru sekolah dasar khususnya menggabungkan muatan dan ketrampilan dari
banyak subjek. Pada tingkat sekolah menengah, tim guru dari area yang berbeda
bekerja sama untuk menunjukan pembelajaran yang keluar dari isi pelajaran. Unit-unit
ini menyediakan lingkungan pembelajaran yang kaya. Tema yang menarik haruslah
menarik perhatian siswa, menyediakan pemecah masalah yang berpengalaman,
mendukung aktivitas interdisiplin, dan menyertakan variasi media, dan
teknologi.
Mulailah dengan pengalaman yang dialami bersama dengan meminta siswa membaca buku yang sama, melihat sebuah videotape, ikut serta dalam sebuah simulasi, mengunjungi museum, atau mendengar pembicaraan tamu. Kemudian melakukan keahlian bersama yang dapat digunakan siswa untuk bekerja sama mengumpulkan data dan informasi, menganalisa temuannya, menarik kesimpulan, mempersiapkan laporan kelompok, dan membagi hasil mereka dalam suatu media presentasi. Kemungkinan aktivitas terkait dengan penelitian pustaka, pencarian internet, dan aktivitas kelompok kecil.
Mulailah dengan pengalaman yang dialami bersama dengan meminta siswa membaca buku yang sama, melihat sebuah videotape, ikut serta dalam sebuah simulasi, mengunjungi museum, atau mendengar pembicaraan tamu. Kemudian melakukan keahlian bersama yang dapat digunakan siswa untuk bekerja sama mengumpulkan data dan informasi, menganalisa temuannya, menarik kesimpulan, mempersiapkan laporan kelompok, dan membagi hasil mereka dalam suatu media presentasi. Kemungkinan aktivitas terkait dengan penelitian pustaka, pencarian internet, dan aktivitas kelompok kecil.
Instructor-Independent Instruction
Media juga dapat
digunakan secara efektif dalam situasi pendidikan formal dimana guru tidak
berfungsi atau bekerja dengan siswa-siswa lain. Dalam aturan pendidikan
informal, media seperti video kaset dan komputer untuk kursus dapat digunakan
oleh orang yang magang pada tempat kerja atau di rumah.
Portofolio
Portofolio merupakan
kumpulan pekerjaan siswa yang menggambarkan perkembangannya selama satu
periode. Portofolio seringkali manyangkut ilustrasi buku yang dihasilkan siswa,
video, dan audiovisual. Portofolio siswa dilakukan seperti mengumpulkan,
mengorganisir, dan berbagi informasi, Meneliti hubungan-hubungan. Menguji
hipotesis, Mengkomunikasikan hasil-hasil secara efektif, Merekam berbagai macam
tampilan, Mencerminkan aktivitas dan belajar pebelajar, Menekankan pada hasil,
sasaran dan prioritas pebelajar, Mendemonstrasikan kreativitas dan personaliti
pebelajar. Portofolio dapat berisikan ilustrasi buku seperti; Penulisan dokumen
seperti, puisi-puisi, kisah-kisah, atau makalah penelitian, Media presentasi,
seperti esai-esai foto, Audio rekaman dari debat-debat, diskusi panel, atau
presentasi lisan, Rekaman video dari siswa pencinta atletik, musik, atau yang
memiliki keahlian dalam menari, Proyek multimedia komputer yang disertai
percetakan, data, grafik, dan gambar-gambar yang bergerak.
PERAN TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Teknologi dan media
dapat melayani banyak peran dalam pembelajaran. Ketika pengajaran adalah
berpusat pada guru (teacher-cntered), teknologi dan media digunakan untuk mendukung
presentasi pengajaran. Sebagai contoh, guru mungkin menggunakan papan
elektronik untuk menampilkan materinya. Selain itu, ketika pengajaran adalah
berpusat pada siswa (student-centered), siswa adalah pengguna pokok teknologi dan media.
Penggunaan kegiatan berpusat pada siswa memungkinkan guru menghabiskan lebih
dari waktu mereka mendiagnosis dan mengkoreksi masalah-masalah siswa,
mengkonsultasi dengan individu siswa, dan mengajar sata-satu dan dalam kelompok
kecil. Penggunaan teknologi dan media oleh siswa ada dua yang penting, yaitu
portfolio dan pendidikan jarak jauh.
SETTING PEMBELAJARAN
Pembelajaran dapat
bertempat pada banyak setting berbeda. Setting pembelajaran adalah sekitar atau
yang mengelilingi dalam pembelajaran. Selain di ruang kelas, pembelajaran juga
terjadi di laboratorium (laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium
bahasa), perpustakaan, pusat media, taman bermain, gedung teater, tanah lapang,
ruang belajar, dan di rumah. Ada dua settingpembelajaran
yaitu synchronous dan asynchronous. Untuk pengajaransynchronous,
pembelajar harus menyajikan pada waktu yang sama. Sebagai contoh, dalam
presentasi di dalam ruang kelas, program televisi langsung (bukan videotape),
atau teleconference. Dalam pengajaran synchronous ada dua tipe. Yang pertama
ialah pengajaran langsung, face
to face. Dan yang kedua sering disebut
pembelajaran jarak jauh. Kegiatan pengajarannya dalam waktu yang sama tapi
pembelajar dapat berada di tempat yang berbeda, contohnya adalah dengan
chatting. Pengajaran yang kedua adalah asynchronous. Pembelajaran ini tidak harus dilaksanakan tidak pada
waktu yang sama.
STRATEGI
Strategi berarti suatu
jalan atau cara untuk melakukan sesuatu. Strategi dideskripsikan sebagai sebuah
prosedur pengajaran yang dipilih untuk membantu proses kegiatan belajar.
Strategi pembelajaran adalah suatu cara yang melibatkan pembelajar dalam sebuah
aktivitas belajar mengajar. Contohnya adalah termasuk presentasi, demonstrasi, cooperative learning, permainan, simulasi, pemecahan masalah, diskusi, drill-and-practice,
discovery, dan tutorial. Teknologi dan media akan
melengkapi dan mendukung banyak strategi pembelajaran. Setelah memilih
strategi, selanjutnya memilih teknologi dan media untuk mengimplementasikan
strategi tersebut.
KESIMPULAN
Dalam makalah ini
membicarakan seputar hal media, Teknologi, dan
pembelajaran. Belajar merupakan sebuah aktifitas transformasi ilmu pengetahuan,
sikap dan nilai dari satu generasi ke generasi lainnya. Membutuhkan satu
saluran dan media yang harus tepat. Sehingga perlu pertimbangan yang mendalam
dan tepat dalam menentukan teknologi yang akan digunakan sebagai sarana
pembelajaran. Disamping itu, penggunaan media pembelajaran juga harus
dipertimbangkan dalam penggunaanya dari berbagai sisi. Diantara berbagai faktor
yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan media pembelajaran antara lain
adalah faktor efektifitas penggunaan media, kemudahan dalam penggunaannya,
ketersediaan sumber energi penggerak media tersebut bila menggunakan listrik
sebagai motor penggeraknya serta pertimbangan lain yang perlu disesuaikan
dengan kondisi lingkungan dan kultural masyarakat setempat.
Langganan:
Postingan (Atom)
